|
Ketika tengah hari, suhu permukaan gurun sering melebihi 60°C. Untuk bergerak aktif pada waktu tersebut, hewan memerlukan tingkah laku khusus ataupun adaptasi
fisiologi (Smolka et.al
2012). Scarabaeus lamarcki merupakan salah satu spesies kumbang tinja di sabana Afrika Selatan yang memanfaatkan
kotoran sebagai makanan. Orang-orang Mesir
kuno menganggap kumbang yang membuat kotoran (atau scarab) merupakan kumbang simbol
penting dalam agama Mesir kuno.
Seperti kumbang tinja lainnya kumbang ini dikenal suka
menggelindingkan bola-bola terbuat dari kotoran yang berbobot 50 kali lebih
berat dibandingkan tubuhnya sendiri. Serangga
ini secara rutin membuat gerakan layaknya menari di atas kotoran bola yang
telah dibuat untuk membantu dalam navigasi keberadaan
saingannya secepat mungkin. Kumbang-kumbang ini naik ke kotoran bola paling
sering selama tengah hari. Studi sebelumnya telah menunjukkan beberapa kumbang membuat
bola-bola kotoran untuk
mempertahankan suhu tubuh yang tinggi serta unggul dalam kompetisi. Kini, para peneliti telah menemukan fungsi baru bola-bola
kotoran tersebut.
Smolka
et.al (2012) menyebutkan Scarabaeus lamarcki adalah
contoh dari serangga yang memerlukan perlindungan termal untuk bergerak di
tanah saat kondisi panas. Serangga ini menggunakan strategi perilaku canggih
untuk mengatur suhu tubuh mereka. Kumbang kotoran dapat menggunakan bola
kotoran seperti unit AC (Air Conditioner) untuk mendinginkan tubuhnya sendiri. Seiring Scarabaeus lamarcki menggelindingkan bola
kotoran miliknya, kumbang ini juga memanfaatkannnya untuk mendinginkan kaki
serta kepalanya.
Ketika terik matahari
siang, kumbang tinja ini memanjat ke puncak bola-bola kotoran miliknya. Saat
berada di atas bola kotoran miliknya, kumbang tinja seringkali melakukan
gerakan seperti mengusap wajahnya yang bertujuan menyebarkan cairan ke kaki
serta kepala agar menjadi lebih dingin.
Para peneliti menemukan bahwa kumbang tinja ketika kondisi
permukaan tanah menjadi panas, maka kumbang naik ke bola kotoran mereka tujuh
kali lebih sering daripada kondisi permukaan tanah yang dingin. Hal tersebut
dibuktikan oleh Jochen Smolka yang merupakan peneliti dari Jerman dengan
menguji pada spesies kumbang Afrika, yaitu Scarabaeus
lamarcki. Smolka meletakkan silikon pada kaki-kaki S. lamarcki seperti bantalan dan membandingkannya
dengan kumbang yang tidak diberi bantalan silikon.
Hasilnya, kumbang yang memiliki bantalan silikon tersebut tidak terlalu
sering memanjat bola kotoran miliknya. Para ilmuwan berpikir bahwa
kumbang yang terdapat di atas kotoran menggunakan bola kotorannya untuk berlindung
dari terik matahari dan membantu melindungi otak dari overheating. Peneliti
menemukan kaki depan kumbang didinginkan dengan suhu 7°C dapat memanjat bola kotoran rata-rata dalam
waktu 10 detik. Seperti unit AC, bola kotoran yang lembab digunakan untuk pendinginan
saat evaporasi (VND.red).

|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar