·
Memperlihatkan terjadinya sumur artesis
Alat dan
bahan
·
Baskom plastik
·
Lempung 0.5 baskom
·
Pasir 0.25 baskom
·
Corong plastik
·
Selang plastik diameter 1 cm, panjang 12
cm
Cara kerja
1.
Disusun alat dan
bahan seperti gambar di bawah
2.
Setelah tersusun
seperti gambar di atas, dituangkan air melalui corong secara perlahan
3.
Diamati dan
ditunggu dalam beberapa waktu, apakah yang terjadi pada selang plastik
Hasil
Pembahasan
Pada
percobaan ini, dilakukan simulasi sumber air artesis. Air artesis adalah air
tanah tertekan (confined ground water)
yang menimbulkan tekanan hidrostatis yang tidak normal. Alat sederhana
pembuatan sumber air artesis menggunakan corong, tanah lempung, waskom plastik,
selang, dan pasir. Digunakannya tanah lempung pada percobaan ini berperan
sebagai lapisan padat aquiclude,
yaitu sebuah
substrat dengan porositas yang sangat rendah itu hampir tidak permeabel
terhadap air tanah. Pasir berguna sebagai aquifer, yaitu batuan/celah yang
menyimpan dan mengalirkan air atau lapisan substrat berpori yang berisi
dan mengirimkan air tanah.
Setelah
air dituangkan melalui corong dan ditunggu dalam beberapa waktu, air naik dalam
selang. Air dimasukkan ke dalam corong mengalir
melewati pasir yang merupakan lapisan tak
kedap air (impermeable) yang memiliki kadar pori untuk ditembus air cukup besar. Pasir disusun sesuai cara kerja
yang dibatasi oleh dua lapisan kedap air (tanah lempung), sehingga tekanan di bawah
lapisan kedap air lebih besar daripada tekanan atmosfer. Air
yang berada di lapisan tak kedap air (pasir) terperangkap di antara dua lapisan
batuan kedap air dan tidak dapat naik ke permukaan air di atasnya, yaitu daerah
yang tidak tertekan. Menurut Linsley, dkk (1991), air
tanah artesis dapat terjadi karena kapasitas infiltrasi setiap permukaan tanah
berbeda-beda tergantung pada tekstur dan struktur tanah. Sebelum air diloloskan
ke dalam tanah, pada dasarnya ditahan terlebih dahulu oleh butiran tanah hingga
tanah menjadi lembab. Pada sumur
artesis, tinggi muka air tanah menunjukkan tinggi permukaan potensiometrik pada
titik atau daerah tersebut.
Naiknya air menuju atas selang terjadi karena air
tertekan dalam pasir (lapisan aquifer)
sehingga timbul tekanan hidrostatik yang disebabkan adanya celah/rekahan yang
bertemu dengan lapisan ini, air akan naik dan keluar menjadi sumber air
artesis. Pori-pori dalam akuifer menimbulkan gaya gesekan yang menghambat
aliran dan tekanan berkurang akibat jaringan rekahan-rekahan di dalam tanah.
Pasir sebagai aquifer dapat menyerap
air dari sebuah aliran air dan akan menyusup masuk di antara tanah lempung. Hal
ini mengakibatkan tekanan tinggi, sehingga ketika air menemukan jalur keluar,
air tersebut melawan gravitasi dan mengalir ke atas serta naik menuju selang.
Proses
penyusupan air tanah akan berakumulasi pada satu titik dimana air tersebut
menemui suatu lapisan atau
struktur batuan yang bersifat kedap air (impermeabel). Titik akumulasi ini akan
membentuk suatu zona jenuh air disebut
sebagai daerah luahan air tanah (discharge zone). Dalam perjalananya aliran air tanah ini seringkali melewati suatu
lapisan akifer yang diatasnya memiliki lapisan penutup yang bersifat kedap air
(impermeabel) hal ini mengakibatkan perubahan tekanan antara airtanah yang
berada di bawah lapisan penutup dan air tanah yang berada diatasnya (Elvyra,
dkk 2013).
Muka air di
dalam selang akan berbeda dengan muka air didalam waskom. Perbedaan ini akan mengakibatkan pergerakan air. Sama
dengan analog ini, air tanah pun akan bergerak dari tekanan tinggi menuju ke
tekanan rendah. Perbedaan tekanan ini secara umum diakibatkan oleh gaya
gravitasi, adanya lapisan penutup yang impermeabel diatas lapisan akifer, gaya
lainnya yang diakibatkan oleh pola struktur batuan atau fenomena lainnya yang
ada di bawah permukaan tanah. Pergerakan tersebut dinamakan gradien aliran air
tanah (potentiometrik).
Air tanah artesis letaknya sangat
jauh di dalam tanah serta berada di antara dua lapisan kedap air. Kedalaman air tanah tidak sama pada setiap tempat.
Volume air yang meresap ke dalam tanah tergantung pada jenis lapisan batuannya
(Gunawan
1998). Berdasarkan hal tersebut terdapat dua jenis lapisan batuan utama, yaitu
lapisan kedap (impermeable) dan lapisan tak kedap air (permeable). Lapisan kedap (permeable) memiliki kadar pori
lapisan kedap atau tak tembus air sangat kecil, sehingga kemampuan untuk
meneruskan air juga kecil. Sedangkan lapisan tak kedap (impermeable) memiliki kadar pori lapisan
tak kedap air atau tembus air cukup besar. Di antara kedua jenis lapisan
tersebut, yakni lapisan kedap dan lapisan tak kedap, terdapat lapisan peralihan
yang merupakan variasi dari dua jenis lapisan tersebut. Jika lapisan yang
kurang kedap terletak di atas dan di bawah suatu tubuh air, maka akan
dihasilkan suatu lapisan penyimpanan air yang disebut air tanah tertahan atau
air sumur artesis (artesian well) (Linsley, dkk 1991).
Kondisi geologi yang diperlukan untuk air artesis
diantaranya adalah :
× Susunan batuannya haruslah terdiri
dari selang-seling antara lapisan-lapisan permeabel dan impermeabel. Di alam,
susunan seperti ini biasanya terdiri dai batu pasir dan serpih. Lapisan
permeabel dinamakan akuifer.
× Susunan batuan tersebut haruslah
terjungkit dan tersingkap di permukaan sehingga air dapat masuk ke dalam
akuifer.
× Cukup presipitasi dan di daerah
singkapan harus ada permukaan resapan (surface drainage) agar akuifer
tetap terisi.
Sumur
artesis tidak bisa disebut sebagai lahan basah,
meskipun terlihat sebagai lahan basah buatan. Sumur artesis merupakan
air tanah (ground water) yaitu massa air yang ada di bawah permukaan tanah.
Lebih dari 98 % dari semua air di daratan tersembunyi di bawah permukaan tanah,
2% terlihat sebagai air di sungai, danau dan reservoir. Setengah dari 2% ini disimpan
di reservoir buatan. Selain itu, karena sumur artesis ini tidak
ditumbuhi oleh vegetasi, biasanya berada di kedalaman >60 meter dan bukan
merupakan daerah peralihan antara daratan dan perairan. Herlambang (2009) menyebutkan bahwa lahan basah menurut Konvensi Ramsar, adalah lahan yang secara alami atau buatan selalu
tergenang, baik secara terus-menerus ataupun musiman, dengan air yang diam
ataupun mengalir. Air yang mengenangi lahan basah dapat berupa air tawar, payau
dan asin. Tinggi muka air laut yang menggenangi lahan basah yang terdapat di
pinggir laut tidak lebih dari 6 meter pada kondisi surut.
Sumur artesis adalah sumur yang bertekanan tinggi
karena air terjebak dalam batuan yang memiliki tekanan, sehingga ketika
dilakukan pengeboran, air dapat naik sendiri tanpa harus di pompa. Karena
tekanannya cukup tinggi untuk menyembur sampai ke permukaan. Oleh karena itu
pipa yang menjadi saluran keluarnya air (bisa dengan menutup keran di setiap
cabang pipa) tidak boleh tertutup karena akan menyebabkan tekanan tersebut
terhalangi sehingga tekanan tersebut akan mencari celah lain untuk keluar (Sunaryo 2004).
Kesimpulan
·
Air tanah bergerak dari tekanan tinggi menuju
ke tekanan rendah.
·
Air artesis adalah air
tanah tertekan (confined ground water)
yang menimbulkan tekanan hidrostatis yang tidak normal.
·
Air tanah artesis letaknya sangat jauh di dalam tanah
biasanya berada di kedalaman >60 meter serta berada di antara dua lapisan
kedap air.
·
Sumur artesis adalah sumur yang melewati
batuan kedap air atau sedimen dan mencapai air yang berada di bawah tekanan
dalam sumber air yang terhalang.
·
Sumur artesis bukan merupakan suatu lahan
basah.
·
Tanah lempung berperan
sebagai lapisan padat aquiclude,
yaitu sebuah
substrat dengan porositas yang sangat rendah itu hampir tidak permeabel
terhadap air tanah (lapisan kedap air).
·
Pasir berguna sebagai aquifer, yaitu lapisan substrat
berpori yang berisi dan mengirimkan air tanah (lapisan kedap air).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar