Ancylostoma
duodenale
Kingdom
: Animalia
Phylum : Nemathelminthes
Class : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Super famili : Rhabditoidea
Genus : Ancylostoma
Class : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Super famili : Rhabditoidea
Genus : Ancylostoma
Spesies
: Ancylostoma duodenale
Ancylostoma
duodenale atau disebut cacing tambang karena dahulunya banyak ditemukan pada
buruh tambang di Eropa. Ancylostoma duodenale menyebabkan penyakit ankilostomiasis.
Kedua jenis cacing ini banyak menginfeksi orang-orang di sekitar pertambangan
dan perkebunan. A. duodenale hidup di rongga usus halus dengan mulut melekat
pada daging dinding usus. Ancylostoma duodenale mirip dengan huruf C. Setiap
ekor Ancylostoma duodenale dapat menghasilkan 28.000 telur per hari.
Telur cacing tambang keluar
bersamaan dengan feces. Dalam waktu 1-1,5 hari, telur akan menetas menjadi
larva, yang disebut larva rhabditiform. Tiga hari kemudian larva berubah lagi
menjadi larva filarifom dimana larva ini dapat menembus kulit kaki dan masuk ke
dalam tubuh manusia. Di tubuh manusia, cacing tambang bergerak mengikuti aliran
darah, menuju jantung, paru-paru, tenggorokan, kemudian tertelan dan masuk ke
dalam usus. Di dalam usus, larva menjadi cacing dewasa yang siap menghisap
darah. Setiap ekor cacing A. duodenale akan menyebabkan manusia kehilangan
0,08-0,34 cc per hari. Oleh karena itulah, cacing tambang menjadi berbahaya
karena dapat menyebabkan anemia pada manusia.
Daur hidup :
Usus manusia
– cacing – telur keluar bersama feses – tempat becek – menetas – hidup lama –
menempel pada kaki manusia – menembus kaki – aliran darah – jantung – paru-paru
– kerongkongan – tertelan – usus manusia – cacing dewasa.
Enterobius vermicularis
Kerajaan:
|
|
Filum:
|
|
Kelas:
|
|
Ordo:
|
|
Famili:
|
|
Genus:
|
Enterobius
|
Species : Enterobius vermicularis
Enterobius
vermicularis atau Oxyuris vermicularis hidup di usus besar manusia. Cacing ini
disebut juga cacing kremi. Panjangnya 9-12 cm (betina) dan 3-5 (jantan). Cacing
ini meletakkan telurnya di anus untuk memperoleh oksigen bagi pertumbuhan
larva. Gerakan cacing ini menyebabkan rasa gatal di bagian anus. Jika digaruk
dengan tangan, telur itu akan melekat di kuku. Telur itu akan masuk kembali ke
dalam tubuh bersama makanan yang telah terkontaminasi tangan yang ada telur
cacing kremi. Hal ini disebut autoinfeksi (infeksi diri sendiri). Apabila akan
kawin, cacing ini menuju usus besar, dan yang betina akan meletakkan telurnya
lagi di anus. Contoh lainnya adalah Oxyuris
equi pada dubur kuda atau keledai.
Perkawinan (atau persetubuhan) cacing
jantan dan betina kemungkinan terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah
kawin dan cacing betina mati setelah bertelur. Cacing betina yang mengandung
11.000-15.000 butir telur akan bermigrasi ke daerah sekitar anal (perianal)
untuk bertelur. Migrasi ini berlangsung 15 – 40 hari setelah infeksi. Telur
akan matang dalam waktu sekitar 6 jam setelah dikeluarkan, pada suhu tubuh.
Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari.
Siklus Hidup :
Telur – tertelan – melalui jalan napas – menetas di duodenum – larva rabditiform – Cacing dewasa di jejunum bagian atas ileum.
Telur – tertelan – melalui jalan napas – menetas di duodenum – larva rabditiform – Cacing dewasa di jejunum bagian atas ileum.
Wuchereria
brancofti
Kingdom: Animalia
Filum : Nemathelminthes
Classis: Secernentea
Ordo: Spirurida
Family: Onchocercidae
Genus: Wuchereria
Species: Wuchereria bancrofti
Wuchereria bancrofti atau disebut juga Cacing Filaria
adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam
filum Nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka
disebut filarial. Cacing filaria penyebab penyakit kaki gajah berasal dari genus Wuchereria dan Brugia. Di Indonesia cacing yang dikenal
sebagai penyebab penyakit tersebut adalah Wuchereria bancrofti,
Brugia malayi, dan Brugia timori.
Cacing dewasa (makrofilaria), bentuknya seperti
benang berwarna putih kekuningan. Sedangkan larva cacing filaria (mikrofilaria)
berbentuk seperti benang berwarna putih susu.
Makrofilaria
yang betina memiliki panjang kurang lebih 65 – 100 mm, ekornya berujung tumpul,
untuk makrofilarial yang jantan memiliki panjang kurang lebih 40 mm, ekor
melingkar. Sedangkan mikrofilaria berukuran panjang kurang lebih 250 mikron,
bersarung pucat.
Tempat hidup Makrofilaria jantan dan
betina di saluran limfe dan kelenjar limfe. Sedangkan pada malam hari mikrofilaria
terdapat di dalam pembuluh darah tepi, dan pada siang hari mikrofilaria
terdapat di kapiler alat-alat dalam, misalnya: paru-paru, jantung, dan hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar